Wednesday, January 25, 2006

Dari Hati Turun ke Mata

”Dari mana datangnya lintah? Dari sawah turun ke kali. Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati” Begitu, bukan, bunyi pantun yang sangat kita kenal itu? ”Mata” dianggap sebagai asal-muasal dan pokok-pangkal hal-hal yang baik, tapi juga rahim yang melahirkan perkara-perkara yang jahat. Tidak heran orang Jepang konon punya kepercayaan, bahwa wanita hamil sebaiknya melihat pemandangan yang indah-indah saja. Misalnya, bunga-bunga di taman nan beraneka-warna. Atau suasana telaga yang damai. Sebaliknya, mereka mesti dihindarkan dari melihat — apalagi melakukan — hal-hal yang jahat. Sampai membunuh seekor nyamuk atau kecoa sekali pun. Menurut saya, kepercayaan tersebut banyak benarnya. Bukankah siapa pun dalam keadaan apa pun, melihat yang indah-indah selalu baik? Sebaliknya melihat, apa lagi terlibat, dengan yang jahat, amatlah riskan dan berbahaya – mudah tertular. Tapi agaknya Firman Tuhan punya pandangan lain. Memang benar Yesus pernah mengatakan, bahwa ”mata itu pelita hati”. Artinya, mata punya fungsi dan posisi yang vital. Namun salahlah pandangan yang mengatakan, bahwa mata adalah ”biang kerok” segala sesuatu. Bahkan bukan cuma salah, tapi juga berbahaya. Ia telah membuat banyak orang tertindas dan menderita, karena hak-hak asasi mereka dilanggar. Praktik-praktik sensor yang sewenang-wenang, misalnya, pada umumnya terjadi karena asumsi bahwa kalau saja ”mata” tidak melihat yang ”jahat-jahat”, maka kejahatan pun tidak akan terjadi. Karena itu, apa yang boleh dan tidak boleh dilihat harus diatur dan dibatasi. Kita pasti masih ingat betul masa tatkala majalah-majalah tiba di tangan kita berlumuran tinta hitam. Ini adalah karena orang-orang seperti Ali Murtopo atau Harmoko percaya, bahwa kalau saja masyarakat tidak membaca yang ”buruk” (dalam pandangan mereka), otomatis segala sesuatu akan baik-baik semata.TAPI sensor yang dimaksudkan sebagai alat pendidikan yang positif, dalam realitas ternyata lebih berfungsi sebagai alat penindasan yang destruktif. Dengan sengaja saya menyebutnya ”penindasan”, sebab memang itulah yang terjadi, ketika orang dicabut hak-haknya untuk berpikir bebas dan mengambil keputusan sendiri. Padahal Tuhan saja menghormati kebebasan manusia. Ia bahkan memberi pilihan kepada manusia untuk tidak taat! Sebab itu merenggut hak dan kebebasan sesama adalah bertentangan dengan kehendak Allah. Kita mesti setuju dengan pendapat, bahwa kebebasan pers adalah pilar utama HAM. Kebebasan pers tercabut, maka semua hak asasi yang lain tinggal menunggu gilirannya.Namun demikian, penolakan terhadap sensor tidak berarti bahwa pembatasan atau pengaturan tak perlu ada. Salah besarlah mengatakan, bahwa ”siapa saja boleh melihat apa saja, di mana saja, dan kapan saja”. Di dalam Alkitab kita membaca, bahwa tidak semua boleh dan dapat dilihat dengan bebas oleh manusia. Ada hal-hal yang dilarang keras oleh Allah untuk dilihat. Misalnya, melihat wajah Allah. Ada hal-hal yang karena kefanaan kita tidak mungkin kita lihat. Misalnya, masa depan kita. Kemudian ada pula hal-hal yang sengaja dirahasiakan oleh Allah. Misalnya, kapan Hari Akhir dan ajal kita akan tiba. Lalu akhirnya, ada hal-hal yang walaupun dapat dilihat oleh mata kita, tapi sebaiknya jangan kita lihat. PADA satu sisi, kebebasan adalah bagian hakiki manusia. Begitulah Allah menciptakannya dan menghendakinya. Sebab itu pantang dinafikan. Namun demikian, kebebasan tersebut tidak tanpa batas. Sebab pada sisi lain, kebebasan tanpa batas selalu bersifat negatif dan destruktif. Mengapa? Karena ini juga bertentangan dengan kodrat manusia. Kodrat manusia adalah makhluk, ciptaan, karena itu fana. Serba terbatas. Bagaikan singa dalam kurungan. Tampaknya saja garang dan meyakinkan, tapi cuma sampai batas tertentu. Ia tidak bisa keluar dari situ.Upaya manusia untuk melawan dan keluar dari keterbatasannya, pasti berakibat satu di antara dua. Atau ia binasa seperti ikan yang menolak hidup di dalam air. Atau ia celaka karena tak mampu mengendalikan kebebasannya sendiri – seperti mengendarai mobil yang remnya ”blong”. ”Kebebasan” yang ”kebablasan”. Jadi bagaimana? Jawabnya adalah, pembatasan atau sensor – sampai pada batas tertentu – penting dan perlu. Tapi si penyensor juga wajib terus-menerus disensor, dibatasi dan diawasi! Di sinilah masalah kita yang paling krusial. UDARA rohani di mana kita hidup – sebagaimana halnya dengan udara ”jasmani” di sekitar kita – menurut Firman Tuhan telah mengalami pencemaran atau terpolusi dengan hebatnya. Inilah yang dimaksudkan Paulus, ketika ia menulis tentang perjuangan melawan ”penghulu dunia yang gelap” dan ”roh-roh jahat di udara”. Karena itu, kita perlu ”filter” atau ”sensor rohani” pula. Menurut Firman Tuhan, ”lembaga sensor rohani” yang paling kredibel adalah Roh Kudus. Dia-lah yang tahu dan mampu mem”filter” apa yang boleh masuk dan apa yang harus keluar. Sedemikian rupa, sehingga semua yang keluar menyenangkan hati Allah dan mendatangkan rakhmat bagi sesama. Sedangkan yang masuk melahirkan rasa lapang dan damai sejahtera di hati kita. Tidak sebaliknya, malah membuat nafas rohani kita menjadi sesak.Tapi bagaimana ”membuat” agar Roh Kudus benar-benar berfungsi?. Sama seperti untuk dapat memanfaatkan komputer, kita mesti pertama-tama mengetahui cara bekerjanya, kita juga perlu mengetahui bagaimana Roh Kudus bekerja. Alkitab antara lain menjelaskan sebagai berikut. Roh Kudus atau ”nafas kehidupan yang dari Allah”, adalah salah satu unsur terpenting yang membuat manusia menjadi manusia. Tanpa itu, manusia (= adam) hanyalah debu (= adama) belaka. Namun kita diberitahu bahwa manusia tidak cuma ”adama”. Manusia adalah suatu kesatuan tubuh, jiwa dan roh – dan karenanya, ia berakal budi dan berhati nurani. Dalam hal memiliki ”tubuh”, manusia tidak berbeda dengan makhluk-makhluk lain. Dalam hal memiliki ”jiwa”, manusia juga tidak berbeda dengan binatang-binatang tertentu.Hanya dalam satu hal, manusia benar-benar unik, tak ada duanya. Yaitu dalam hal keberadaan ”Roh Allah” di dalam dirinya. ”Roh Allah” inilah yang bekerja di dalam diri manusia, melalui ”akal budi” dan ”hati nurani”nya – dan membuatnya menjadi makhluk yang istimewa, ”gambar Allah”. BILA menurut pandangan populer dunia ini, semua tindakan manusia – baik maupun buruk – ”dari mata turun ke hati”, Alkitab mengatakan yang sebaliknya. Yaitu, segalanya bertolak dan berpangkal dari ”hati”Kalau yang keluar adalah tindakan yang baik, itu berarti Roh Kudus yang berfungsi. Sebaliknya bila yang jahat dan kotor yang keluar, maka roh kegelapan-lah yang beroperasi. Tapi bagaimana pun, tak mungkin manusia otonom sepenuh-penuhnya. Manusia cuma punya pilihan: menjadi ”hamba Allah” atau ”hamba dosa”; ”hidup menurut Roh” atau ”hidup menurut daging”. Kitab Kejadian mengisahkan peristiwa yang menggambarkan pola proses kejatuhan manusia ke dalam dosa. Pola proses yang terus-menerus terulang sampai sekarang. Di situ kita membaca, antara lain, ”Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya”.Kutipan kita dimulai dengan kalimat ”perempuan itu melihat”. Sepintas lalu ini memberi kesan, seolah-olah proses dosa berawal dari ”mata”. ”Dari mata turun ke hati”. Padahal tidak. Tindakan ”perempuan itu melihat” tidak lebih adalah kelanjutan dari suatu proses batin sebelumnya. Yaitu, pertama, ketika manusia berhasil diperdayakan sehingga bersedia berdialog dengan si Iblis. Padahal seharusnya manusia hanya boleh mendengarkan Allah saja. Dan kedua, ketika kemudian manusia – di dalam hatinya – mulai meragukan kebenaran firman dan titah Tuhan. Proses paling awal kejatuhan manusia selalu adalah, ketika di hatinya secara tanpa sadar ia ”menyejajarkan” Allah dengan Iblis. Maksud saya ialah, ketika hati manusia mulai mendua, mendengarkan sini mendengarkan sana. Menyangka bahwa ia memiliki wewenang untuk pada akhirnya memutuskan siapa yang benar di antara keduanya: Allah atau Iblis. Padahal seharusnya ia hanya boleh taat kepada Allah. Prinsip yang berlaku adalah: ”Bukan karena benar maka sesuatu itu adalah perintah Allah, tetapi karena sesuatu itu adalah perintah Allah maka ia benar”. BEGITU manusia membuka hati untuk mendengarkan Iblis di samping Allah, ia membuka peluang bagi Iblis untuk melancarkan serangan yang mematikan. Dari mula-mula membanding-bandingkan antara Allah dan Iblis, proses melanjut dengan meragukan Allah dan kian mempercayai Iblis. ”Jangan-jangan embah dukun yang benar!””Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat”. Atau, ”Ayo lakukan saja! Jangan terlalu pusing soal Allah. Sudah berapa kali kamu berteriak dalam doamu kepadaNya? Adakah manfaatnya? Apakah Ia mendengarkanmu? Mengapa tidak coba ”orang pinter” sekarang?”. Tatkala keraguan akan kebenaran dan kebaikan Allah mulai tersemai di hati Anda, Anda telah tiba di tapal batas antara dosa sebagai ”niat” dan dosa sebagai ”tindakan”. Inilah saatnya mata mulai berfungsi. Ia mengajak Anda berpaling ke arah yang salah, dan memerosokkan Anda semakin dalam ke perangkap dosa. ”Lalu ia mengambil buahnya untuk dimakan dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya”. Herankah kita sekarang, mengapa dalam Kotbah di Bukit Yesus begitu menekankan peran hati? Dosa, dalam bentuknya yang paling nyata, memang berwujud tindakan. Tapi dosa tidak berpangkal di situ. Tindakan hanyalah out-put saja dari apa yang ada di dalam hati. Mata yang tertarik lalu melirik, serta tangan yang meraih lantas membagi, adalah sekadar konsekuensi logis dari yang sebelumnya menggejolak di sanubari. Seperti uap yang dengan sendirinya keluar dari ketel, ketika air yang dijerang mulai mendidih. ”Dosa” ada di ketel, bukan di uap. Tanpa air yang mendidih, uap pun tiada. Yesus menekankan apa yang tersemai di hati manusia, sebab itulah yang akan kita tuai dalam bentuk dosa. Membunuh, misalnya, adalah tindakan dosa. Tidak ada yang mengatakan tidak. Begitu pula dengan mencuri atau berzinah atau berdusta. Tapi bila dosa cuma itu maka, wah, dengan lega saya dapat membusungkan dada dan berkata, ”Saya bersih tanpa dosa! Sebab saya toh tidak pernah mengambil jiwa orang, atau mencuri milik orang, atau berzina dengan istri orang, atau menipu orang”. Menanggapi ini, Yesus akan berkata, ”Kalau dosa adalah itu, maka situasi-mu sungguh memprihatinkan dan tidak ketulungan. Sebab segala sesuatu telah amat terlambat. Ibarat membawa pasien ke bagian gawat darurat, ketika kedaan benar-benar sudah gawat dan sudah darurat. Ya apa lagi yang dapat dilakukan?! Padahal besar kemungkinan yang bersangkutan masih dapat ditolong, sekiranya ia mau mulai berobat, ketika nafasnya mulai kadang-kadang sesak, atau pencernaannya mulai sering terganggu, atau kepalanya mulai mudah pening, atau tidurnya mulai kurang lelap. Ketika segala sesuatu baru ”mulai”. SESEORANG, kata Yesus, tidak baru berdosa setelah ia membunuh atau berzina. Seperti pada beberapa penyakit tertentu, penyakit itu telah mulai sejak amat awal. Dosa membunuh berawal dari membiarkan diri dikuasai amarah. Sedang dosa berzina, menurut Yesus, telah terjadi ketika orang melarutkan diri tanpa melawan dalam arus nafsu kedagingannya Mungkin sambil berkata, ”Toh saya tidak berbuat apa-apa?!” Ismail Marzuki dalam salah satu gubahannya, mengungkapkan apa yang saya kemukakan itu. Yaitu ketika sang pemuja gadis ”Ayati” setengah bertanya mengatakan, ”Dosakah hamba, memuja dikau dalam mimpi. Hanya dalam mimpi?!” Toh cuma dalam mimpi, tidak apa-apa ‘kan?! Yesus berkata, ”Tidak” Sel kanker yang menyebar liar begitu berbahaya ke seluruh tubuh dimulai dengan satu sel saja! Dosa membunuh berawal dari amarah yang tidak segera dikendalikan. Amarah ini berubah menjadi kebencian. Kemudian kebencian bermetamorfose menjadi dendam. Dan akhirnya dendam hanya menanti kesempatan untuk menjadi tindakan.. Sebelum orang membunuh dengan tangannya, ia terlebih dahulu membunuh dalam hatinya. Tak ada ”dosa kecil” atau ”dosa besar”. Sebab ”dosa besar” selalu berasal dan berawal dari ”dosa kecil” yang dibiarkan. Bagaikan luka kecil di kulit. Sebaliknya dari pada diobati, luka kecil tersebut dikorek-korek terus setiap kali. Maka luka pun menganga lagi. Dan luka ini akan terus berkembang menjadi kian berbahaya. Anda bertanya, mengapa ”Kesepakatan Malino I”, nampaknya tak akan berumur panjang? Sebab cuma senjata di tangan saja yang diminta untuk diserahkan. Bukan hati yang terpanggang dendam. Dari mana datangnya dosa? Dari hati turun ke mata. Dari mana datangnya celaka? Dari luka kecil yang dibiarkan menganga!

Sakit, ”Tulah” atau ”Anugerah”

”Sakit” tidak sama dengan ”penyakit”. Ada ”sakit” yang bukan ”penyakit”—tertusuk paku, misalnya. Dan sebaliknya, ada pula ”penyakit” yang justru membunuh ”rasa sakit”—pada penderita penyakit diabetes dan penyakit kusta, misalnya.Tapi saya harap Anda tidak berkata, ”Wah, enak benar dong, kalau ada ‘penyakit’ yang malah menghilangkan ‘rasa sakit’! Jadi tidak perlu menderita!” Salah besar! Sebab justru di situlah penderitaan si pasien itu. Bila ia tak mampu lagi merasakan ”sakit”. Suatu ketika, tatkala bertugas ke luar kota, saya dan istri amat beruntung, sebab diajak makan lesehan rame-rame ke luar kota, di tepi sebuah telaga. Di situ kami menikmati udara yang sejuk, pemandangan yang indah, makanan yang lezat, serta dikelilingi teman-teman yang ramah. Pokoknya, serba ”perfek”-lah! Toh satu saat, tiba-tiba selera makan saya luruh seketika. Ini terjadi setelah seorang ibu menunjukkan kaki kanannya. Yang ternyata telah kehilangan dua buah jarinya. ”O, diamputasi,” pikir saya, padahal tidak. Ibu itu bercerita, bahwa ia kehilangan dua jari kakinya itu, ketika berlibur bersama keluarga di luar kota. Tatkala bangun pagi, ia merasa heran karena ujung tempat tidurnya basah digenangi darah. Dua jarinya hilang, rupanya karena dimakan tikus. Segumpal kecil sisanya, malah masih dibiarkan tergeletak di lantai.Mengapa ibu itu tidak merasakan apa-apa? Tidak lain, karena penyakit diabetes yang dideritanya, telah membuat syarafnya tak berfungsi lagi. Ngerinya!ITULAH, antara lain, perbedaan antara ”sakit” dan ”penyakit”. ”Penyakit” adalah suatu keadaan yang sedapat mungkin harus kita atasi, kita obati, dan kita lenyapkan sampai tuntas-tas , tidak berani datang-datang lagi. Sedang ”rasa sakit”? Haruskah ia kita basmi dan kita musuhi? Wah, mengenai ini, lebih baik kita bicarakan dulu lebih saksama. Apalagi, mumpung kita juga sedang berada di tengah-tengah minggu-minggu peringatan sengsara Kristus. Nabi Yeremia, dalam pergumulan imannya yang hebat, pernah berteriak memprotes Tuhan, ”Mengapakah rasa sakitku tidak berkesudahan, dan lukaku sangat payah, sukar disembuhkan? Sungguh, Engkau seperti sungai yang curang bagiku, air yang tidak dapat dipercayai!” (Yeremia 15:18). Bila seorang nabi sekaliber Yeremia saja sampai berteriak kesakitan, dan hampir kehilangan kepercayaannya kepada Allah, tidak mungkin tidak rasa sakitnya itu pasti telah mencapai titik puncak. Tapi siapa sih yang dalam kesakitannya, tidak pula meraung minta penderitaannya diakhiri? Dalam pengalaman sakit saya sendiri, saya mengakui, betapa saya dapat menerima ”penyakit” saya. Betapa saya siap menghadap Dia, kapan pun ajal tiba. Tapi dengan harapan, agar—kalau boleh—saya tak perlu mengalami kesakitan. Salahkah Yeremia? Salahkah saya? Salahkah mohon dibebaskan dari kesakitan? SIAPA PUN, kecuali mereka yang menderita kelainan jiwa, tidak menyukai kesakitan. Kita menyukainya atau tidak, rasa sakit itu ada dan akan terus ada. Ia akan senantiasa menjadi bagian integral dari kehidupan manusiawi kita yang normal. Jadi kalau memang mustahil menghindarinya, pikir saya, mengapa kita tidak berusaha merangkulnya? Mengapa kita tidak berusaha mengenalnya dengan lebih akrab? Supaya, siapa tahu, setelah berkenalan, kita lalu lebih mau dan lebih mampu menerimanya dengan rela. Dan kita tidak menanggung stress yang tidak perlu.Pemahaman yang lebih komplit, lebih objektif, dan lebih adil mengenai ”sakit” (= ”pain”)—bukan ”penyakit” (= ”disease”)—saya peroleh melalui karya laris Philip Yancey, berjudul ”WHERE IS GOD WHEN IT HURTS?”. Atau, ”DI MANAKAH ALLAH, KETIKA (SAYA) TERLUKA DAN KESAKITAN?”Buku ini diawali dengan penegasan, betapa ”rasa sakit” adalah anugerah Allah yang luar biasa! Karena itu, ketimbang menyumpah ”God dam’mit, it hurts!” (= ”Setan alas, aduh sakitnya!”), kita semestinya memuji, ”Thank God for pain!” (”Puji syukur, Tuhan, untuk sakit ini!”). Tentu tidak semua ”rasa sakit” bisa kita syukuri. Rasa sakit luar biasa, yang setiap saat, selama bertahun-tahun, terus menerus tanpa henti dan tanpa iba menikam para penderita kanker – apanya yang pantas kita syukuri? Toh yang bersangkutan telah menyadari bahwa ia sakit dan tak mungkin disembuhkan. Mengapa Tuhan tidak membiarkannya menjalani sisa hidupnya dengan tenang – tanpa rasa sakit? Untuk apa ”excess baggage” (= beban lebih) ini ? Saya tak tahu apa jawabnya. Seorang pakar yang khusus melakukan studi dan penelitian tentang ”rasa sakit”, Dr. Paul Brand, mengakui bahwa memang sayang sekali Tuhan tidak memberikan kita ”tombol”, yang bila kita ”klik” dapat menghentikan ”rasa sakit” yang lebih merupakan ”laknat” ketimbang ”berkat” itu. Tapi, kata Dr. Brand, ”rasa sakit berkepanjangan yang tak jelas manfaatnya seperti itu, ”hanya” berjumlah sekitar satu persen saja. Sedang yang sembilanpuluh sembilan persen sisanya, bersifat jangka pendek. Begitu ”penyakit”nya teratasi, ”rasa sakit” itu juga pergi.”PUJI syukur, Tuhan, untuk rasa sakit ini!” Mengapa mesti bersyukur? Jawabnya: sebab alangkah malangnya dan celakanya, mereka yang tidak bisa merasakan sakit lagi. Yang tak merasakan apa-apa, walaupun tangannya hangus terpanggang panci panas. Yang tak merasakan apa-apa, walaupun paku panjang menusuk telapak kakinya. Banyak penderita penyakit kusta meninggal dunia bukan karena penyakitnya, melainkan karena luka-luka yang tak tersadari itu. ”Rasa sakit” adalah anugerah Allah untuk memberi peringatan bahwa ada bahaya yang mengancam. Saya kira Anda pernah mengalami, bagaimana kepala Anda – bum! - sakit luar biasa, ketika di suatu siang yang panas terik, karena hendak cepat-cepat memuaskan dahaga, Anda menghabiskan satu contong es krim dalam dua kali telan. Sakit ini bukan karena es krim itu masuk ke otak Anda. Tidak! Tapi tubuh Anda memberi sinyal, bahwa perut Anda tidak tahan terhadap ”perubahan cuaca” yang drastis, akibat es krim yang Anda paksakan masuk dalam jumlah ”besar” itu! Atau suatu pagi, begitu bangun dari tidur, Anda merasakan ngilu luar biasa di pundak Anda? Ini bukan akibat Anda terlalu capek main tenis semalam. Tapi sangat boleh jadi, karena kadar gula darah Anda sedang meninggi! Awas! TAPI mengapa mesti diiringi sakit? Malah kadang-kadang diiringi dengan kolik, seperti pada penderita penyakit batu empedu? Mengapa sih, tidak cukup Tuhan berbisik ke telinga kita, ”Anak-Ku, empedumu tidak beres! Segeralah ke dokter, dan jaga makananmu!” Atau mengapa tidak cukup dengan menunjukkan—melalui alat-alat diagnostik—berapa tinggi kadar gula darah, tekanan darah, atau kolesterol kita?Mengapa Tuhan mesti meng-”aniaya” kita dengan rasa sakit yang kadang-kadang keterlaluan, dan sungguh bikin orang jera? Sebabnya, saudara, adalah itu. Yaitu, supaya kita jera! Supaya kita segera bertindak! Tuhan tahu seluk-beluk kejiwaan manusia. Yang kalau cuma dibujuk dengan halus, o, sekadar masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Saya punya teman yang didiagnosis menderita penyakit jantung. Oleh dokter ia dianjurkan untuk diit. Lalu apa yang ia lakukan? Ia ”berkeliling” dari satu dokter ke dokter lain, sampai bertemu dengan dokter yang mengatakan , ”O, Anda sehat walafiat! Tak perlu diit apa-apa”. Nasihat dokter yang terakhir inilah yang ia patuhi dengan gembira. Sampai suatu ketika ia mengalami rasa sakit yang luar biasa di dadanya. Seolah-olah ditindih dengan beban berton-ton beratnya. Ia tidak tahan! Ia tidak ingin mengalami sakit seperti itu lagi. Dan ini membuat ia bersedia dioperasi, dan dengan sukarela menjalani diit. Ini berkat apa? Berkat rasa sakit yang luar biasa itu. Thank God for pain! RASA sakit adalah anugerah Allah. Tapi jelas,. anugerah Allah yang paling tidak disukai dan disyukuri. The most unappreciated gift. Tuhan, saya yakin, memahami sikap Anda itu. Rasa sakit memang tidak enak. Tidak semua orang bisa seperti Yesus, yang menolak mencicip minuman penangkal sakit.Tapi yang penting, janganlah lalu fanatik memusuhi, menolak dan menghindarinya!. Kehidupan moderen punya kecenderungan ini. Teknologi menolong manusia menghindari ketidaknyamanan. AC untuk menghindari panas. Sepatu untuk melindungi telapak kaki. Lalu obat penurun panas, penangkal sakit, penghilang batuk. Munafiklah saya, bila saya katakan, saya tidak memanfaatkan produk budaya manusia itu. Tapi akhirnya semakin banyak orang mengakui, bahwa ada yang bermanfaat dan hakiki yang hilang dalam gaya hidup moderen kita. Kini orang kian menyadari, bahwa udara segar lebih sehat ketimbang udara AC. Bahwa berjalan dengan kaki telanjang, baik untuk kesehatan. Bahwa batuk, demam, atau rasa sakit, bermanfaat bagi tubuh dalam melakukan perlawanan terhadap gangguan dari luar. Bahwa berjalan kaki naik tangga lebih sehat daripada naik-turun lift. Saya tidak menganjurkan agar kita mem”berhala”kan atau me”romantisasikan” ”rasa sakit”. Bagaimana pun, ”rasa sakit” itu ya sakit; tidak nikmat. Tapi kita perlu lebih memahami, lebih memanfaatkan, dan lebih menghargai pemberian Tuhan yang satu ini. Bahwa ”rasa sakit” adalah ”anugrah”. Tidak selalu merupakan ”tulah”. Karena itu, kita masih akan melanjutkan lagi percakapan kita tentang ”rasa sakit”. Semoga Anda tertarik mengikutinya.

30 Juni Bersama Pak Eka

29 Juni pak Eka Darmaputera berpulang. Bahwa pak Eka akan berpulang dalam waktu yang tak terlalu lama lagi--karena gigitan penyakit yang kian mengencang--semua orang sudah mahfum. Sebuah "tujuan" yang sudah diketahui bersama. Namun, kedatangan momen itu tetap saja mengejutkan.
Sekitar pukul 20.00, saya masih dipercetakan, mengawasi proses pemotongan kartu ucapan terima kasih yang dibuat Kairos untuk "mewakili" keluarga. Hampir pukul 21.00 saya tiba di rumah, dan berkemas dengan malas karena kelelahan. Besok subuh saya akan berangkat ke Jkt.
Saya tiba di GKI Bekasi Timur (Bektim) sekitar 15 menit sebelum bu Evang sampai. Beliau say hello dengan wajah ringan. Yang kuat ya, Bu, kata saya menyalaminya. Saya sudah tak punya air mata, katanya. Lalu meluncurlah cerita tentang detik2 terakhir beliau melepas pak Eka.
Lalu saya melewati hari itu hingga malam berlangsungnya Kebaktian penghiburan dengan duduk di bangku belakang-pojok--setelah menatap wajah pak Eka yang telah hijau. Sendiri. Merenungkan banyak hal. Mengamati orang2 yang datang dan pergi. Beberapa tokoh nasional terkenal masih saya kenali. Sebagian orang2 "biasa". Dan sebagian lagi, saya kira, adalah orang2 yang mencintai pak Eka dengan diam2.
Seorang anak muda berjalan ke depan. Putri. Beransel. Sesampai di sisi peti jenazah, ia menangis tersedu2. Lama, tak henti2. Dipegang oleh temannya. Lalu duduk di kursi dekat situ. Tak lama kemudian, ia berdiri lagi, menatap jenazah dan tersedu2 lagi. Membuat saya terpaku dan bertanya2: Pak Eka milik siapa sih? Bukan hanya tokoh nasional yang tadi hadir, yang berjalan dengan kaku layaknya pejabat pejabat penting. Tapi juga anak muda itu, dengan penampilan mahasiswa, yang entah lewat sisi mana, mengenal pak Eka.
Sempat meninggalkan bangku itu karena diajak makan siang. Lalu kembali, berpapasan dengan bu Evang, yang baru "berhasil" diajak makan siang saat itu. Saya melihat HP. Hampir pukul 14.30. Sorenya, bu Evang menyapa lagi, karena akan pulang terlebih dahulu. Saya pun melewati sore yang panjang itu hingga Kebaktian Penghiburan dimulai.
Hampir pukul 22.00 saat saya berjalan ke parkiran mobil. Seorang kawan menawari menginap di rumahnya. Udara dingin menerpa. Tanah masih basah karena hujan. Tidur saja dulu di mobil, kata kawan saya, yang melihat saya sangat kelelahan dan kelaparan. Namun saya tak menyadarinya. Kepala saya rasanya blank. Pun saat ditawari untuk menulis puisi in memoriam. Saya tak sanggup. Malam itu saya kembali menemukan, betapa jauh lebih nyaman bagi saya untuk tercenung.


- Ang Tek Khun -

Surat Terbuka

Rekan-rekan sepelayanan, kawan-kawan seperjuangan, dan saudara-saudaraku seiman, yang saya kasihi dengan segenap hati!" Terpujilah Tuhan, yang telah berkenan mengantarkan saya melalui perjuangan panjang, kurang lebih 21 tahun lamanya! Selama 21 tahun itu, saya akui, saya tidaklah seperkasa singa, sekuat gajah, atau setegar baja. Saya adalah "darah" dan "daging", manusia "biasa-biasa" saja, yang sekadar berusaha untuk setia kepada Tuhannya.
Tidak jarang, 21 tahun itu saya lalui dengan amarah, cemas, dan rasa terluka di jiwa. Namun demikian, pada saat yang sama, tahun-tahun tersebut juga adalah tahun-tahun yang amat "kaya" dan limpah dengan rahmat dan berkat. Saya disadarkan, betapa Tuhan yang saya ikuti tak selalu menyenangkan, tapi tak pernah Ia mengecewakan.
Mata rohani saya pun dicelikkan, untuk melihat betapa saya adalah orang yang sangat diberkati. Tuhan mengaruniai saya dengan kekayaan yang luar biasa, berupa istri, anak, dan menantu yang maknanya tak tergantikan oleh apa pun juga.
Dan saya ditakjubkan serta amat diteguhkan oleh ribuan sahabat yang begitu peduli, memperhatikan dan menyayangi saya. Mereka terdiri dari segala bangsa, tinggal di pelbagai belahan dunia, penganut beraneka rupa agama, dan berasal dari beragam usia serta kedudukan sosial: Dari seorang presiden Republik Jerman sampai seorang tukang parkir jalanan. Kesimpulannya: Apa lagi yang masih kurang? Apa lagi yang pantas saya tuntut?
Saudara-saudara sekalian, kini saya telah hampir tiba di penghujung jalan, berada di etape-etape akhir perjalanan hidup saya. Para dokter telah menyatakan, tak ada lagi tindakan medis yang signifikan yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kondisi kesehatan saya, kecuali (mungkin) transplantasi hati.
Dalam situasi seperti itu, ketika tangan dan upaya manusia tak lagi mampu melakukan apa-apa yang bermakna, kita bersyukur karena bagi orang beriman selalu ada yang amat berarti yang dapat dilakukan. Dan, itulah yang kita lakukan malam ini: BERDOA. Kita menyatakan penyerahan diri kita, seraya mempersilakan tangan-Nya bertindak dan kehendak-Nya berlaku dengan leluasa.
Dalam hubungan ini, perkenankanlah saya menceritakan sebuah kesaksian. Pada suatu ketika, sewaktu "Iunch-break", anak saya -- Arya -- yang berdiam dan bekerja di Sydney, diajak ngobrol oleh salah seorang rekan sekantornya, yang dikenal punya "indera keenam". Tanpa "ba" atau "bu", teman tersebut tiba-tiba bertanya, apakah ayah Arya adalah seorang pejabat atau seorang tokoh masyarakat. "0h, tidak. Ayah saya seorang pendeta," jawab Arya.
"Apakah ayah Anda sedang sakit?" tanyanya pula. "Ya, sudah 20 tahun," kata Arya. Kemudian terjadilah sesuatu yang mengejutkan, yang mendorong saya menceritakan kejadian ini. Orang itu -- ia bukan "orang Kristen" -- berkata, "Ayah Anda itu seharusnya sudah lama 'pergi'. Tapi masih bisa bertahan sampai sekarang, karena ada ribuan orang di seluruh dunia yang selalu berdoa baginya!"
Melalui kisah ini saya ingin mengatakan, betapa berartinya yang kita lakukan malam ini! Sebab itu, tolong, jangan pernah Anda katakan, "Saya cuma bisa berdoa!" Doa itu, bukan "cuma"! Terima kasih dari lubuk hati terdalam saya, Evang, Arya, dan Vera, kepada para rekan yang telah memprakarsai dan memfasilitasi acara petang ini. Pekerjaan sederhana ini, saya yakin, tidak sia-sia.
Namun demikian, ada permintaan saya. Bila anda berdoa untuk saya -- baik di sini maupun di mana saja -- saya mohon janganlah terutama memohon agar Tuhan memberi saya kesembuhan, atau mengaruniai saya usia panjang, atau mendatangkan mukjizat dahsyat dari langit! Jangan! Biarlah tiga perkara tersebut menjadi wewenang dan "urusan" Tuhan sepenuhnya!
Saya cuma mohon didoakan, agar sekiranya benar ini adalah tahap pelayanan saya yang terakhir, biarlah Tuhan berkenan memberikan saya dan keluarga keteguhan iman, kedamaian, dan keikhlasan dalam jiwa. Semoga Tuhan berkenan menganugerahi saya perjalanan yang tenang, kalau boleh tanpa kesakitan, dan tidak mahal biayanya, sampai saya tiba di pelabuhan tujuan. Dan kemudian, biarlah tangan Tuhan dengan setia terus tanpa putus menggandeng -- bila perlu menggendong -- Evang, Arya, Vera, serta (mudah-mudahan) cucu-cucu saya melanjutkan perjalanan mereka.
Saudara-saudara sekalian, Paulus pernah menulis, "Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia, bagiku itu berarti bekerja memberi buah, jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu" (Filipi 1:21).
Itulah kerinduan saya. Segera bersama-sama dengan Kristus. Namun bila Ia masih menghendaki saya di dunia ini -- entah lama, entah sebentar -- doakanlah saya, agar itu dapat saya manfaatkan untuk bekerja memberi buah. Tidak berlama-Iama di pembaringan dan dalam kesakitan.
Demikianlah, saudara-saudara isi hati saya. Saya mengikuti persekutuan Saudara-saudara malam ini dengan terima kasih yang dalam dan keharuan yang sangat. Dan, tolong jangan lupa berdoa pula bagi hamba-hamba-Nya yang kini juga tengah bergulat dengan penyakit, khususnya Andar Ismail dan Lydia Zakaria.
Terima kasih dari kami berempat.
- Eka Darmaputra -