Wednesday, January 25, 2006

Sakit, ”Tulah” atau ”Anugerah”

”Sakit” tidak sama dengan ”penyakit”. Ada ”sakit” yang bukan ”penyakit”—tertusuk paku, misalnya. Dan sebaliknya, ada pula ”penyakit” yang justru membunuh ”rasa sakit”—pada penderita penyakit diabetes dan penyakit kusta, misalnya.Tapi saya harap Anda tidak berkata, ”Wah, enak benar dong, kalau ada ‘penyakit’ yang malah menghilangkan ‘rasa sakit’! Jadi tidak perlu menderita!” Salah besar! Sebab justru di situlah penderitaan si pasien itu. Bila ia tak mampu lagi merasakan ”sakit”. Suatu ketika, tatkala bertugas ke luar kota, saya dan istri amat beruntung, sebab diajak makan lesehan rame-rame ke luar kota, di tepi sebuah telaga. Di situ kami menikmati udara yang sejuk, pemandangan yang indah, makanan yang lezat, serta dikelilingi teman-teman yang ramah. Pokoknya, serba ”perfek”-lah! Toh satu saat, tiba-tiba selera makan saya luruh seketika. Ini terjadi setelah seorang ibu menunjukkan kaki kanannya. Yang ternyata telah kehilangan dua buah jarinya. ”O, diamputasi,” pikir saya, padahal tidak. Ibu itu bercerita, bahwa ia kehilangan dua jari kakinya itu, ketika berlibur bersama keluarga di luar kota. Tatkala bangun pagi, ia merasa heran karena ujung tempat tidurnya basah digenangi darah. Dua jarinya hilang, rupanya karena dimakan tikus. Segumpal kecil sisanya, malah masih dibiarkan tergeletak di lantai.Mengapa ibu itu tidak merasakan apa-apa? Tidak lain, karena penyakit diabetes yang dideritanya, telah membuat syarafnya tak berfungsi lagi. Ngerinya!ITULAH, antara lain, perbedaan antara ”sakit” dan ”penyakit”. ”Penyakit” adalah suatu keadaan yang sedapat mungkin harus kita atasi, kita obati, dan kita lenyapkan sampai tuntas-tas , tidak berani datang-datang lagi. Sedang ”rasa sakit”? Haruskah ia kita basmi dan kita musuhi? Wah, mengenai ini, lebih baik kita bicarakan dulu lebih saksama. Apalagi, mumpung kita juga sedang berada di tengah-tengah minggu-minggu peringatan sengsara Kristus. Nabi Yeremia, dalam pergumulan imannya yang hebat, pernah berteriak memprotes Tuhan, ”Mengapakah rasa sakitku tidak berkesudahan, dan lukaku sangat payah, sukar disembuhkan? Sungguh, Engkau seperti sungai yang curang bagiku, air yang tidak dapat dipercayai!” (Yeremia 15:18). Bila seorang nabi sekaliber Yeremia saja sampai berteriak kesakitan, dan hampir kehilangan kepercayaannya kepada Allah, tidak mungkin tidak rasa sakitnya itu pasti telah mencapai titik puncak. Tapi siapa sih yang dalam kesakitannya, tidak pula meraung minta penderitaannya diakhiri? Dalam pengalaman sakit saya sendiri, saya mengakui, betapa saya dapat menerima ”penyakit” saya. Betapa saya siap menghadap Dia, kapan pun ajal tiba. Tapi dengan harapan, agar—kalau boleh—saya tak perlu mengalami kesakitan. Salahkah Yeremia? Salahkah saya? Salahkah mohon dibebaskan dari kesakitan? SIAPA PUN, kecuali mereka yang menderita kelainan jiwa, tidak menyukai kesakitan. Kita menyukainya atau tidak, rasa sakit itu ada dan akan terus ada. Ia akan senantiasa menjadi bagian integral dari kehidupan manusiawi kita yang normal. Jadi kalau memang mustahil menghindarinya, pikir saya, mengapa kita tidak berusaha merangkulnya? Mengapa kita tidak berusaha mengenalnya dengan lebih akrab? Supaya, siapa tahu, setelah berkenalan, kita lalu lebih mau dan lebih mampu menerimanya dengan rela. Dan kita tidak menanggung stress yang tidak perlu.Pemahaman yang lebih komplit, lebih objektif, dan lebih adil mengenai ”sakit” (= ”pain”)—bukan ”penyakit” (= ”disease”)—saya peroleh melalui karya laris Philip Yancey, berjudul ”WHERE IS GOD WHEN IT HURTS?”. Atau, ”DI MANAKAH ALLAH, KETIKA (SAYA) TERLUKA DAN KESAKITAN?”Buku ini diawali dengan penegasan, betapa ”rasa sakit” adalah anugerah Allah yang luar biasa! Karena itu, ketimbang menyumpah ”God dam’mit, it hurts!” (= ”Setan alas, aduh sakitnya!”), kita semestinya memuji, ”Thank God for pain!” (”Puji syukur, Tuhan, untuk sakit ini!”). Tentu tidak semua ”rasa sakit” bisa kita syukuri. Rasa sakit luar biasa, yang setiap saat, selama bertahun-tahun, terus menerus tanpa henti dan tanpa iba menikam para penderita kanker – apanya yang pantas kita syukuri? Toh yang bersangkutan telah menyadari bahwa ia sakit dan tak mungkin disembuhkan. Mengapa Tuhan tidak membiarkannya menjalani sisa hidupnya dengan tenang – tanpa rasa sakit? Untuk apa ”excess baggage” (= beban lebih) ini ? Saya tak tahu apa jawabnya. Seorang pakar yang khusus melakukan studi dan penelitian tentang ”rasa sakit”, Dr. Paul Brand, mengakui bahwa memang sayang sekali Tuhan tidak memberikan kita ”tombol”, yang bila kita ”klik” dapat menghentikan ”rasa sakit” yang lebih merupakan ”laknat” ketimbang ”berkat” itu. Tapi, kata Dr. Brand, ”rasa sakit berkepanjangan yang tak jelas manfaatnya seperti itu, ”hanya” berjumlah sekitar satu persen saja. Sedang yang sembilanpuluh sembilan persen sisanya, bersifat jangka pendek. Begitu ”penyakit”nya teratasi, ”rasa sakit” itu juga pergi.”PUJI syukur, Tuhan, untuk rasa sakit ini!” Mengapa mesti bersyukur? Jawabnya: sebab alangkah malangnya dan celakanya, mereka yang tidak bisa merasakan sakit lagi. Yang tak merasakan apa-apa, walaupun tangannya hangus terpanggang panci panas. Yang tak merasakan apa-apa, walaupun paku panjang menusuk telapak kakinya. Banyak penderita penyakit kusta meninggal dunia bukan karena penyakitnya, melainkan karena luka-luka yang tak tersadari itu. ”Rasa sakit” adalah anugerah Allah untuk memberi peringatan bahwa ada bahaya yang mengancam. Saya kira Anda pernah mengalami, bagaimana kepala Anda – bum! - sakit luar biasa, ketika di suatu siang yang panas terik, karena hendak cepat-cepat memuaskan dahaga, Anda menghabiskan satu contong es krim dalam dua kali telan. Sakit ini bukan karena es krim itu masuk ke otak Anda. Tidak! Tapi tubuh Anda memberi sinyal, bahwa perut Anda tidak tahan terhadap ”perubahan cuaca” yang drastis, akibat es krim yang Anda paksakan masuk dalam jumlah ”besar” itu! Atau suatu pagi, begitu bangun dari tidur, Anda merasakan ngilu luar biasa di pundak Anda? Ini bukan akibat Anda terlalu capek main tenis semalam. Tapi sangat boleh jadi, karena kadar gula darah Anda sedang meninggi! Awas! TAPI mengapa mesti diiringi sakit? Malah kadang-kadang diiringi dengan kolik, seperti pada penderita penyakit batu empedu? Mengapa sih, tidak cukup Tuhan berbisik ke telinga kita, ”Anak-Ku, empedumu tidak beres! Segeralah ke dokter, dan jaga makananmu!” Atau mengapa tidak cukup dengan menunjukkan—melalui alat-alat diagnostik—berapa tinggi kadar gula darah, tekanan darah, atau kolesterol kita?Mengapa Tuhan mesti meng-”aniaya” kita dengan rasa sakit yang kadang-kadang keterlaluan, dan sungguh bikin orang jera? Sebabnya, saudara, adalah itu. Yaitu, supaya kita jera! Supaya kita segera bertindak! Tuhan tahu seluk-beluk kejiwaan manusia. Yang kalau cuma dibujuk dengan halus, o, sekadar masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Saya punya teman yang didiagnosis menderita penyakit jantung. Oleh dokter ia dianjurkan untuk diit. Lalu apa yang ia lakukan? Ia ”berkeliling” dari satu dokter ke dokter lain, sampai bertemu dengan dokter yang mengatakan , ”O, Anda sehat walafiat! Tak perlu diit apa-apa”. Nasihat dokter yang terakhir inilah yang ia patuhi dengan gembira. Sampai suatu ketika ia mengalami rasa sakit yang luar biasa di dadanya. Seolah-olah ditindih dengan beban berton-ton beratnya. Ia tidak tahan! Ia tidak ingin mengalami sakit seperti itu lagi. Dan ini membuat ia bersedia dioperasi, dan dengan sukarela menjalani diit. Ini berkat apa? Berkat rasa sakit yang luar biasa itu. Thank God for pain! RASA sakit adalah anugerah Allah. Tapi jelas,. anugerah Allah yang paling tidak disukai dan disyukuri. The most unappreciated gift. Tuhan, saya yakin, memahami sikap Anda itu. Rasa sakit memang tidak enak. Tidak semua orang bisa seperti Yesus, yang menolak mencicip minuman penangkal sakit.Tapi yang penting, janganlah lalu fanatik memusuhi, menolak dan menghindarinya!. Kehidupan moderen punya kecenderungan ini. Teknologi menolong manusia menghindari ketidaknyamanan. AC untuk menghindari panas. Sepatu untuk melindungi telapak kaki. Lalu obat penurun panas, penangkal sakit, penghilang batuk. Munafiklah saya, bila saya katakan, saya tidak memanfaatkan produk budaya manusia itu. Tapi akhirnya semakin banyak orang mengakui, bahwa ada yang bermanfaat dan hakiki yang hilang dalam gaya hidup moderen kita. Kini orang kian menyadari, bahwa udara segar lebih sehat ketimbang udara AC. Bahwa berjalan dengan kaki telanjang, baik untuk kesehatan. Bahwa batuk, demam, atau rasa sakit, bermanfaat bagi tubuh dalam melakukan perlawanan terhadap gangguan dari luar. Bahwa berjalan kaki naik tangga lebih sehat daripada naik-turun lift. Saya tidak menganjurkan agar kita mem”berhala”kan atau me”romantisasikan” ”rasa sakit”. Bagaimana pun, ”rasa sakit” itu ya sakit; tidak nikmat. Tapi kita perlu lebih memahami, lebih memanfaatkan, dan lebih menghargai pemberian Tuhan yang satu ini. Bahwa ”rasa sakit” adalah ”anugrah”. Tidak selalu merupakan ”tulah”. Karena itu, kita masih akan melanjutkan lagi percakapan kita tentang ”rasa sakit”. Semoga Anda tertarik mengikutinya.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home